Antisipasi Gejolak Harga
JAKARTA, KOMPAS — Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi membuat…
Ketegangan Iran-AS: Pemerintah Diminta Antisipasi Resiko Fiskal dari Volatilitas Minyak
Siaran Pers PWYP Indonesia Untuk diberitakan pada 10 Januari 2020 dan…
PWYP Khawatir Ada Potensi Korupsi di RUU Minerba
SULTENG RAYA – Publish What You Pay (PWYP) Indonesia yang merupakan salah satu…
Newsletter - Open Contracting - Desember 2019
Newsletter - Open Contracting - Desember 2019 from Publish What You Pay…
Workshop Penggunaan Global Forest Watch untuk Pelestarian Hutan di Papua Barat
Hutan di Papua Barat adalah harapan terakhir atas hutan-hutan di Indonesia,…
Newsletter - Voicing for Life Desember 2019
Newsletter Voicing for Life Desember 2019 from Publish What You Pay…
Tata Kelola Industri Ekstraktif dalam Pengendalian Perubahan Iklim
Tata kelola hutan dan lahan selama ini telah menjadi perhatian khusus…
Penerimaan Migas Indonesia: Menggunakan Data Pembayaran Kepada Pemerintah untuk Akuntabilitas
Sektor minyak bumi dan gas (migas) merupakan sumber penerimaan yang signifikan…
Dampak Omnibus Law Terhadap Sektor Pertambangan dan Sumber Daya Alam
Joko Widodo dalam pidato pelantikannya sebagai Presiden RI periode 2019-2024…
Buka Informasi dan Ruang Partisipasi: Langkah Awal Tingkatkan Kualitas Hidup Warga Sekitar Tambang
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menerbitkan Peraturan Daerah…
Menurut Maryati, lonjakan harga minyak dunia akan menekan neraca perdagangan migas nasional yang kerap defisit dalam beberapa waktu terakhir. Keuangan negara juga semakin terbebani untuk anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji. Apalagi, porsi subsidi BBM dan elpiji lebih besar ketimbang subsidi untuk jenis energi lain, yaitu listrik.
”Langkah lain, perlu efisiensi penggunaan BBM dan elpiji agar beban subsidi bisa dihemat, meningkatkan kinerja produksi minyak dalam negeri, serta menggalakkan penggunaan sumber energi terbarukan,” ujar Maryati.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, neraca perdagangan migas defisit 12,697 miliar dollar AS pada 2018. Pada Januari-November 2019, neraca perdagangan migas defisit 8,309 miliar dollar AS.
Kinerja produksi siap jual (lifting) minyak pada 2019 sebesar 746.000 barel per hari, di bawah target 775.000 barel per hari. Tahun ini, pemerintah menargetkan lifting minyak 755.000 barel per hari.








