Antisipasi Gejolak Harga
JAKARTA, KOMPAS — Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi membuat…
Masa Depan dan Tantangan Pengelolaan Gas Bumi Nasional
Gas bumi memegang peranan penting dalam pembangunan, baik dalam pemenuhan dan…
Tata Kelola Mesti Transparan
JAKARTA, KOMPAS — Tata kelola sumber daya alam yang transparan, akuntabel, dan…
“Masa Depan dan Tantangan Pengelolaan Gas Nasional”
Di tengah produksi minyak bumi yang terus menurun, gas berperan strategis dalam…
Target Penggunaan Gas untuk Transportasi Sulit Terwujud
JAKARTA, KOMPAS — Optimalisasi penggunaan gas untuk transportasi membutuhkan…
Cadangan Gas Bumi Terancam Habis 43 Tahun Lagi
Publish What You Pay (PWYP) mengungkapkan kalau cadangan gas bumi akan…
Tata Kelola Gas Bumi Nasional
Indonesia adalah pemasok gas terbesar di Asia Tenggara, dengan total ekspor…
Tantangan Pengelolaan Gas di Sektor Hulu
Indonesia saat ini mempunyai sumber daya gas yang berlimpah, dengan sumber daya…
Industri Tuntut Harga Gas yang Lebih Adil
Bagi industri tertentu seperti industri pupuk, petrokimia, dan baja, harga gas…
Menurut Maryati, lonjakan harga minyak dunia akan menekan neraca perdagangan migas nasional yang kerap defisit dalam beberapa waktu terakhir. Keuangan negara juga semakin terbebani untuk anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji. Apalagi, porsi subsidi BBM dan elpiji lebih besar ketimbang subsidi untuk jenis energi lain, yaitu listrik.
”Langkah lain, perlu efisiensi penggunaan BBM dan elpiji agar beban subsidi bisa dihemat, meningkatkan kinerja produksi minyak dalam negeri, serta menggalakkan penggunaan sumber energi terbarukan,” ujar Maryati.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, neraca perdagangan migas defisit 12,697 miliar dollar AS pada 2018. Pada Januari-November 2019, neraca perdagangan migas defisit 8,309 miliar dollar AS.
Kinerja produksi siap jual (lifting) minyak pada 2019 sebesar 746.000 barel per hari, di bawah target 775.000 barel per hari. Tahun ini, pemerintah menargetkan lifting minyak 755.000 barel per hari.






